Berbekal proposal iseng karya ustadz Wahhab Rajasam yang minta buku dan nyebutin kalo jumlah asatidzah di mahad segini-segini. Gak disangka rupanya Pak SBY gak maen2! Buktinya kemaren kita dapet tumpukan beberapa kardus kecil berisi buku barunya Pak Dino Patti Jalal (Staff nya Pak Presiden) yang bertema seni memimpin ala SBY!
Buku yang kayaknya mahal tersebut (tebal sih, langka lagi) berisi tentang semuahal about Pak SBY selama menjabat jadi presiden.keputusan-keputusan beliau, pengambilan kebijakan, memoar (kale aja) dan laen-laen. Gak tau mau dibagi ke asatidzah nggak (nanti dikira kampanya lagi!) tapi daripada nganggur di pos paket di Kantor Kesantrian ahsan dibagi aja yah...he he...
Mau tau reviewnya? Nih tak kasih copy pastenya dari http://www.kilasberita.com/kb-review/buku/438-harus-bisa-seni-memimpin-ala-sby
Harus Bisa! Seni Memimpin ala SBY
Jakarta, "Ide untuk menulis buku ini datang ketika suatu hari saya membersihkan meja kerja saya, dan menemukan segumpulan nota-nota tulisan tangan SBY yang tersimpan di laci. Presiden SBY sering menulis nota-nota ini dalam rapat Kabinet kepada menteri dan stafnya, umumnya berisi instruksi, klarifikasi, atau meminta dicarikan informasi.
Ketika membenahi nota-nota ini, saya langsung sadar bahwa ini bukan arsip biasa: ini adalah sidik jari dari era politik penting yang kelak akan dipelajari di sekolah dan kampus. Dan sidik jari SBY ini ada dimana-mana: dalam berbagai keputusannya, pidatonya, gebrakannya, pikirannya, tindakannya, konflik batinnya-- semua ini adalah jejak-jejak sejarah yang masih segar di depan mata. Dari sinilah timbul gagasan untuk membuat catatan harian untuk merekam peristiwa-peristiwa di Istana.
Dalam menulis catatan harian ini, saya menjadi semakin terekspos terhadap satu tema dasar: kepemimpinan. Mata saya semakin terbuka bahwa sebagian besar masalah nasional kita sangat berkaitan erat dengan faktor kepemimpinan. Dengan kepemimpinan yang baik, maka krisis akan teratasi, konflik dapat diselesaikan, dan negara semakin maju. Sebaliknya, dengan kepemimpinan yang buruk, korupsi semakin parah, ekonomi jadi terpuruk dan reformasi akan mundur. Faktor kepemimpinan, karenanya, bisa menjadi kunci sukses atau penyebab kegagalan."
- Drs. Dino Patti Djalal. (kilasberita.com/dtc)
|